| PERTANYAAN
Ustadz حفظك الله ahsanallahu ilaykum,
Dalam QS Al-Baqarah ayat 286, Allah ta’ala berfirman : لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya)
- Apakah ada tafsir mengenai kata “wus’an” yang jelas dan mudah untuk dicerna, Ustadz? Sebab makna ‘keluasan’ ini bisa jadi diartikan sebagai ilmu, kekuatan, harta, atau keimanan, dst..
- Apakah bisa kita katakan; jika seseorang ditakdirkan untuk memiliki “wus’an” yang lebih luas daripada yang lain, maka ujiannya semakin berat dibandingkan manusia yang lain? Jazaakumullah khayr wa baarakallahu fiik Ustadz
| JAWABAN
Wallohu a’lam, yang kami ketahui tafsiran para ulama untuk ayat ini adalah tentang keindahan agama islam yaitu taklif syariat atau pembebanan syariat pada kaum muslimin itu sesuai dengan kesanggupannya, sehingga dia bisa beribadah kepada Allah sesuai dengan yang dia bisa. Semisal : Jika dia tidak mampu sholat wajib dalam kondisi berdiri, dia pun boleh sholat dalam keadaan duduk, seorang yang sakit menahun tidak bisa berpuasa maka boleh dia membayar fidyah dan contoh lain semisalnya.
Jadi, wallohu a’lam. Yang kami ketahui, secara khusus ayat itu tidak berkaitan dengan musibah/ujian untuk seorang yang Allah berikan melebihi kemampuannya.
Al-imam al-qurthubi mengatakan :
وهذا خبر جزم، نص الله تعالى على أنه لا يكلف العباد من وقت نزول الآية عبادة من أعمال القلب أو الجوارح إلا وهي في وسع المكلف
Ini adalah kabar yang ditegaskan. allah tidak akan memberikan kewajiban ibadah ( taklif ) dari waktu turunnya ayat sampai sekarang. kepada seorang hamba baik amalan hati, badan kecuali sesuai dengan kesanggupannya.
Ini maknanya.
Jadi wus’an disini adalah kesanggupan dari perihal kesanggupan melakukan ibadah.
Dan adapun ujian yang berkaitan dengan harta, jiwa dan lainnya yang bersifat keduniaan, maka banyak ayat lain yang memotifasi diri kita bersabar atas musibah tersebut.
Diantaranya Allah firmankan, setiap satu kesulitan ada dua kemudahan.
{ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ یُسۡرًا (5) إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ یُسۡرࣰا (6) }
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
[Surat Al-Insyirah: 5-6]
Atau, musibah yang datang kepada kita, akan menghapus dosa. Sebagaimana firman Allah :
{ وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ }
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).
[Surat Asy-Syura: 30]
Atau yang lainnya, sangat banyak keutamaan orang yang bersabar diatas ujian.
Dan kemudian, benar apa yang disampaikan bahwa tatkala dia punya keimanana, harta atau selainnya yang berlebih dari orang lain, maka ujiannya semakin banyak.
dari Anas bin Malik, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Wallohu a’lam



