HUKUM MENGABARKAN BERITA KEMATIAN DI MASJID

HUKUM MENGABARKAN BERITA KEMATIAN DI MASJID

| PERTANYAAN
Bismillah, ustad mau bertanya tentang apakah ada dalil yang membolehkan, atau dalil yang melarang tentang banyaknya masjidx 2 di kampung yang menggunakan toak/ pengeras suara untuk pengumuman, seperti adanya kematian, baarakallhufiikum

| JAWABAN
Menjadikan pengeras suara di masjid untuk pengumuman warga. Hal ini, hukumnya perlu diperinci.
Mari kita bahas penggunaannya satu persatu :

  1. Pengumuman kematian dimasjid
    mengumumkan kematian di khalayak termasuk lewat sepeker masjid. ada riwayat yang datang dalam masalah ini. yaitu riwayat Hudzaifah bin Yaman, beliau mengatakan :
    لا تُؤْذِنُوا بِهِ أَحَدًا ، إِنِّي أَخَاف أَنْ يَكُون نَعْيًا ، إِنِّي سَمِعْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُذُنَيَّ هَاتَيْنِ يَنْهَى عَنْ النَّعْي
    “Jangan umumkan berita kematian tersebut kepada seorang pun. Aku khawatir itu termasuk Na’yun (memberitakan kematian yang terlarang). Sungguh, aku pernah mendengar dengan kedua telingaku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mengumumkan kematian seperti itu terlarang
    ( Hr Ibnu majah, dihasankan oleh Syekh al-albany dalam shohih Ibmi Majah 2/13 ) Dalam hadits tersebut terdapat keterangan bahwa Na’yu hukumnya adalah terlarang.
    namun Na’yu ( mengumumkan kematian ) yang dilarang oleh Nabi ﷺ adalah jika dilakukan ala Jahiliyah ( Na’yu Jahiliyah ).
    sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, dimana beliau berkata :
    أَنَّ النَّعْي لَيْسَ مَمْنُوعًا كُلّه ، وَإِنَّمَا نُهِيَ عَمَّا كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّة يَصْنَعُونَهُ
    “Mengumumkan berita kematian tidaklah semua terlarang. Yang terlarang hanyalah yang dahulu dilakukan oleh para orang Jahiliyah (Fathul Bari, 3: 116). dan lantas apakah Na’yu jahiliyah? Na’yu Jahiliyah menurut Al-Imam Ashon’any adalah :
    ” والمشهور في العرب أنهم كانوا إذا مات فيهم شريف أو قتل بعثوا راكبا إلى القبائل ينعاه إليهم ، يقول : نعاء فلانا أو يا نعاء العرب ، هلك فلان أو هلكت العرب بموت فلان .
    ثم قال الصنعاني : ويقرب عندي أن هذا هو المنهي عنه ، ومنه : النعي من أعلى المنارات كما يعرف في هذه الأمصار في موت العظماء ” انتهى .
    “ Yang masyhur dari kalangan arab kebiasaan mereka jika salah seorang dari pembesar meninggal atau terbunuh mereka mengutus seseorang dengan berkendara ke kabilah-kabilah untuk menyiarkan kematiannya. Mereka mengatakan ‘Telah meninggal fulan atau telah meninggal kalangan arab, binasalah fulan atau binasalah arab dengan sebab kematian fulan”
    Berkata Ash Shan’ani selanjutnya, “Dan pendapat yang paling dekat bagiku, perbuatan ini adalah perkara yang dilarang, Diantara bentuk na’yu adalah menyiarkan kematian seseorang diatas menara-menara sebagaimana diketahui pada waktu ini ketika meninggalnya para pembesar”
    ( Subulus Salam syarh Bulughil marom 1/482 ) al-Qolyubi menjelaskan tentang Na’yu Jahiliyah sebagai :
    ” وهو النداء بموت الشخص ، وذكر مآثره ومفاخره
    Mengumumkan kematian seseorang dengan mengangkat suara dan menyebut tentang sifat-sifat mayit dan pengagungan nasabnya ( Hasyiyah Al-Qolyuby 1/345 ) dari keterangan diatas, barangkali dapat kita simpulkan bahwa Na’yu jahiliyah yang haram berisi :
    teriak mengangkat suara untuk menyebarkan pujian dan kelebihan mayit. sehingga pendengar merasa celaka akan kematiannya lantas meratap ( terutama kematian para pembesar ) Apakah pengumuman kematian di masjid bagian dari Na’yu Jahiliyah ?
    sepertinya, prematur jika kita mengatakan pengumuman kematian di masjid sebagai Na’yu yang dilarang ataukah tidak. karena harus dilihat maksud dan tujuan pengumuman Na’yu itu sendiri.
    Jika tujuannya adalah menyebarkan kematian seseorang dengan penyebutan kebaikan dan kelebihannya dengan suara keras sehingga orang yang mendengar pun akan meratap, maka ini tersebut sebagai Na’yu yang dilarang. adapun jika pengumuman dimasjid dengan tujuan selain itu maka -Wallohu a’lam- hukumnya tidaklah makruh atau haram. dalam sejarah, umar Bin Khotob pernah naik ke atas mimbar untuk mengabarkan kematian ( Na’yu ) Nu’man Bin Muqorron lantas beliau meletakan tangannya diatas kepalanya lalu beliaupun menangis.
    ini bisa kita lihat dalam kitab Futuhul Buldan karya Al-Baladziry hal 311. Dan juga Al-Imam An-nawawy ketika menjelaskan riwayat dari Nabi ﷺ . ketika beliau ﷺ mengabarkan kepada para sahabat kematian Najasy. Al-Imam An-Nawawy menjelaskan :
    اِسْتِحْبَاب الإِعْلام بِالْمَيِّتِ لا عَلَى صُورَة نَعْي الْجَاهِلِيَّة , بَلْ مُجَرَّد إِعْلام للصَّلاة عَلَيْهِ وَتَشْيِيعه وَقَضَاء حَقّه فِي ذَلِكَ , وَاَلَّذِي جَاءَ مِنْ النَّهْي عَنْ النَّعْي لَيْسَ الْمُرَاد بِهِ هَذَا , وَإِنَّمَا الْمُرَاد نَعْي الْجَاهِلِيَّة الْمُشْتَمِل عَلَى ذِكْر الْمَفَاخِر وَغَيْرهَا ” انتهى.
    “Didalamnya ada anjuran untuk meyiarkan kematian seseorang tapi bukan dengan tata cara seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah; Akan tetapi hanya sebatas pengkabaran untuk sholat jenazah dan dalam rangka menunaikan haknya. Adapun jenis na’yu yang terlarang bukanlah yang dimaksud seperti ini, tetapi yang dimaksud adalah na’yu jahiliyah yang didalamnya ada pujian atas mayit dan lain sebagainya ( Syarh Shohih Muslim 7/21 ) maka Insya Allah ﷻ inilah yang tepat, bahwa pengumuman kematian di masjid dengan pengeras suara jika tujuannya bukan na’yu jahiliyah maka hukumnya boleh.
    Syekh sholih Al-Fauzan pernah ditanya masalah ini, dan beliau mengatakan :
    إذا استدعى الأمر يخبر عنه في المساجد أو بمكبر الصوت لا بأس . إذا كان الغرض من ذلك مصلحة للميت للدعاء له أو الصلاة عليه أو قضاء ديونه لا بأس يخبر عنه.
    Apabila memerlukan hal itu untuk mengabarkan kematian mayit di masjid-masjid atau dengan pengeras suara maka tidak mengapa. apabila maksudunya adalah untuk kemaslahatan mayit. agar manusia mandoakan dan mensholatkan dan melunasi hutangnya. tidak masalah..
    ( https://youtu.be/0D7hA6BGYyE?si=6y05zvfQfxE_0edf ) wallohu a’lam

Share Now:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *