| PERTANYAAN
Kemudian ana izin bertanya satu lagi Ustadz apabila ada seorang wanita telah nifas hingga 42 hari kemudian kering dan besoknya muncul bercak/flek darah yg sedikit apakah darah ini tergolong nifas atau istihadhah?
Syukran, Jazakallah khairan katsiiran.
Baarakallah fiikum.
| JAWABAN
Batasan Nifas adalah 40 hari, sebagaimana dalam riwayat ummu salamah, beliau mengatakan :
كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَقْعُدُ بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dahulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wanita menunggu masa nifasnya selesai hingga 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 311, Tirmidzi no. 139, Ibnu Majah no. 648. Hadits ini dishahihkan Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan shahih).
Bahkan terdapat kesepakatan sahabat akan hal ini, sebagaimana disampaikan oleh Al-Imam At-Tirmidzi :
أجمع أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن النفساء تقعد عن الصلاة أربعين يوماً، إلا أن ترى الطهر قبل ذلك، فتغتسل وتصلي
Pada ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersepakat bahwa wanita yang mengalami nifas, diizinkan tidak melakukan sholat selama empat puluh hari. Kecuali jika dia suci sebelum itu, maka dia langsung mandi besar kemudian sholat.
Abu ‘Ubaid rahimahullah mengomentari
وعلى هذا جماعة الناس
Pendapat ini dipegang oleh sejumlah ulama.
Kemudian jika keluar lagi flek/bercak darah, maka itu bukan nifas lagi tapi istihadhoh. Sehingga tetap sholat dan mengerjakan ibadah.
Syekh muhammad bin sholih al-utsaimin pernah ditanya tentang wanita yang keluar flek setelah masa nifas berakhir. Beliau menjawab :
فهذا كله ليس بحيض ، فلا يمنع من الصلاة ، ولا يمنع من الصيام ، ولا يمنع من جماع الرجل لزوجته ، لأنه ليس بحيض . قالت أم عطية : (كنا لا نعد الصفرة والكدرة شيئاً ) . أخرجه البخاري ، وزاد أبو داود : ( بعد الطهر) وسنده صحيح .
Ini bukanlah haidh ( demikian pula nifas ) maka tidak terlarang sholat dan puasa juga jimak. Seorang shohabiyah Nabi shollallohu’alaihi wasallam Ummu athiyah mengatakan :
كُنَّا لا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا . رواه أبو داود (307) وصححه الألباني في صحيح أبي داود. ورواه البخاري (326) بلفظ : كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ شَيْئًا .
“Kami tidak menganggap flek kecoklatan dan kekuningan setelah bersuci sebagai sesuatu”. (HR. Abu Daud: 307 dan telah ditashih oleh Albani di dalam Shahih Abu Daud. HR. Bukhori: 326 dengan redaksi: “Kami tidak menganggap flek kecoklatan dan kekuningan sebagai sesuatu”.
( Majmu’ fatawa 11/281 )
Wallohu a’lam



