| PERTANYAAN
Ustadz حفظك الله ,
Mohon penjelasannya atas syubht mengenai Jika Allah menakdirkan sesuatu maka itu berarti Allah memaksakan hal tersebut terjadi
Bagaimana menjawab syubhat tersebut Ustadz? Karena kita telah belajar bahwa manusia diberi kehendak, namun yang disaat bersamaan kehendak tersebut tetap di bawah kehendak Allah, sehingga jabariyyah mengatakan hal itu berarti Allah memaksakan takdirNya/kehendakNya pada kita, sehingga kita bisa melihat ada manusia yang berjalan di atas jalanNya, ada juga yang kafir, dan sejenisnya..
Jazaakumullah khayr Ustadz
|JAWABAN
Meyakini takdir bahwa ia adalah ketetapan yang dipaksakan oleh Allah atas makhluknya, adalah keyakinan sesat sekte Jabariyyah.
بدعة الجبر هو الاعتقاد أن الإنسان مجبر على ما يفعله، محكوم به عليه ولا إرادة له ولا اختيار
Bid’ah jabariyyah adalah keyakinan bahwa manusia dipaksa takdir atas apa yang dia lakukan. Tanpa memiliki kehendak dan pilihan.
Ini adalah pemahaman yang bid’ah. Karena keyakinan Ahlussunnah adalah : bahwa segala apapaun terjadi atas takdir Allah dan manusia memiliki usaha dan pilihan.
Untuk menghindari syubhat jabariyah ini. Nabi shollallohu’alaihi wasallam sudah memberikan solusi yang simpel, yaitu cukup imani takdir dan beramal karena kita tidak tahu, apa takdir kita kedepan.
Sebagaimana yang tersirat dalam hadits ini :
Dari Ali -raḍiyallāhu ‘anhu- ia mengatakan, “Kami sedang menyelenggarakan (pemakaman) jenazah di Baqī’ al-Garqad,maka datanglah Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menemui kami, lalu beliau duduk, dan kami pun ikut duduk di sekitar beliau, sedang beliau memegang sebuah tongkat. Beliau lalu menunduk dan mengetuk-ngetukkan tongkat (ke tanah), kemudian bersabda, “Tak seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan tempatnya di neraka dan tempatnya di surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak memasrahkan diri pada ketetapan (takdir) kita saja?” Beliau menjawab, ” Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan menggapai apa yang diciptakan untuknya…” ( hr al-Bukhory 3208 )
Dan sangat banyak ayat yang menegaskan, bahwa hidup ini Alla berikan pilihan. Ini bertanda bahwa kita tidak dipaksa dengan takdir.
Sehingga diantara kekeliruan dalam memahami takdir adalah : menyalahkan takdir atas maksiat yang dia kerjakan.
Padahal ia mengerjakan maksiat adalah karena pilihannya sendiri.
Dan juga, untuk merontokan syubuhat jabariyyah ini.
Perlu kita ketahui bahwa dalam memahami takdir, kita haru beriman dengan tingkatan-tingkatan takdir. Yaitu ada 4 tingkatan :
- Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
- Kemudian, Allah tetapkan takdir dalam lauhuk mahfudz
- Kemudian Allah berkehehendak atas segala sesuatu
- Kemudian Allah menciptakannya.
Wallohu a’lam



