Ahsanallahu ilakum Ustadzi,
Afwan, ana izin bertanya :
- Apakah setelah sholat tarawih, di malam harinya dianjurkan sholat malam lagi ?
- Lantas bagaimana penjelasan tentang Nabi ﷺ tidak menambah rokaat dari 11 rokaat ?
- Manakah yang lebih utama apakah shalat tarawih dengan imam sampai selesai hingga witir atau melakukan witir di akhir sepertiga malam sehingga kita memisahkan diri kita jamaah hendak melaksanakan shalat witir?
- Apakah shalat tarawih boleh dikerjakan dengan cara 4 rakaat 1 salam? Atau hanya boleh dengan cara 2 rakaat?
Jazaakumullahu khairan, Baarakallahu fiikum, Ustadz
| JAWABAN
Waahsanallohu ilaikum jami’an.
Adapun tekstual hadits yang ditanyakan pada pertanyaan adalah :
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2013 dan Muslim no. 738].
Hadits tersebut memberikan pemahaman kepada kita. Yaitu diantaranya :
1️⃣ Bahwa Nabi ﷺ kebanyakan memilih 11 rokaat saat sholat malamnya. Dan inilah yang dilihat oleh Aisyah Radhiyallahu anha di hari-hari bersama beliau.
Namun Nabi ﷺ terkadang pula sholat malam dengan 13 rokaat. Dalam riwayat dari ibnu abbas : “Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764)
Sehingga, sholat tarawih bisa dilakukan 11 rokaat atau lebih dari itu tidak masalah, in sya Allah ﷻ.
2️⃣Kemudian dari hadits tersebut juga, dapat kita ambil pelajaran : bahwa sholat tarawih itu hendaknya agak lama.
Memang dalam Tekstual hadits rokaatnya : 4+4. Namun maknanya adalah Nabi ﷺ memisahnya menjadi : 2+2+2+2. Karena beliau memerintahkan :
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam” [HR. Bukhari, no. 1137 dan Muslim, no. 749]
2+2+2+2 ini sangat jelas akan kebolehannya.
Sedangkan langsung 4+4, para ulama berselisih pendapat akan kebolehannya.
Dalam al-mausu’ah al-fiqhiyyah dikatakan :
Syafiiyah mengatakan, jika ada orang shalat tarawih 4 rakaat dengan salam sekali, shalatnya tidak sah, dan batal. Jika dia lakukan dengan sengaja dan tahu tata caranya. Jika tidak, maka shalat yang dia kerjakan menjadi shalat sunah mutlak. Karena tarawih mirip dengan shalat wajib, dalam arti dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah. Sehingga tidak boleh diubah dari riwayat yang ada. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 27/145).
Inilah yang berkaitan dengan penjabaran rokaat tarawih.
Dan selanjutnya:.
SHOLAT MALAM LAGI SETELAH SHOLAT TARAWIH
Lantas, bagaimanakah hukum sholat qiyamullail/tahajjud setelah tarawih ??
Pada asalnya adalah, jika sudah sholat bersama imam sampai witir. Maka dia sudah dihitung sholat semalam suntuk. Dan ini sudah mencukupinya. Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة (رواه الترمذي، رقم 806 وأبو داود، رقم 1375 والنسائي، رقم 1605 وابن ماجه، رقم 1327)
“Siapa yang shalat (malam) bersama Imam sampai selesai ditulis baginya qiyamul lail.” (HR. Tirmizi, no. 806, Abu Dawud, no. 1375, Nasa’i, no. 1605 dan Ibnu Majah, no. 1327).
jika dia melakukan sholat tahajjud di malam harinya apakah boleh sedangkan dia sudah sholat witir ?
Jawabannya boleh.
boleh seseorang sholat sunnah setelah sudah sholat witir. Dalam riwayat dari Aisyah, beliau mengatakan :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)
WITIRNYA BERSAMA IMAM TARAWIH ATAU NANTI BELAKANGAN ?
Dan jika ingin melakukannya, apakah dia sholat tarawih bersama imam tanpa witir ? Ataukah tetap witir bersama dengan imam tarawih ?
Untuk hal ini, para ulama kita memberikan solusi yaitu :
- Solusi pertama, ketika shalat bersama imam tarawih, tetap sholat berwitir bersamanya namun diniatkan sholat tarawih, sehingga nanti ia bangkit ketika imam salam, dan menambah satu rakaat sehingga menjadi genap (maksudnya ketika imam salam dari shalat witir, ia tidak salam dan bangkit untuk menambah satu rakaat). Kemudian di akhir malam ia sholat lagi dan berwitir. Ini adalah pendapat beberapa ulama, seperti syekh ibnu baz dan lain-lain.
- Solusi kedua, berwitir bersama imam saat tarawih. Dan saat mau menambah di akhir malam sholat malam, maka sholatlah dan jangan melakukan witir lagi.
Al- Imam At-Tirmizi rahimahullah mengatakan : “Para ulama berbeda pendapat terkait witir di awal malam, kemudian shalat lagi di akhirnya. Sebagian ulama berpendapat dari kalangan para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan lainnya, kalau witir di awal malam, kemudian tidur dan shalat lagi di akhir malam, maka dia boleh shalat sesuai kehendaknya sedangkan witirnya tidak dilakukan, cukup dengan witir sebelumnya. Dan ini pendapat Sofyan Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Mubarok, Syafi’i, penduduk Kufah dan Ahmad. Dan ini yang terkuat karena telah ada diriwayatkan dari jalan lain, Bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat setelah witir.”
(Sunan Tirmizi, 2/334).
Namun, baiknya menurut kami adalah kita sholat witir bersama imam. Agar mendapatkan keutamaan sholat semalam suntuk.
Dan jika ingin sholat malam lagi silahkan lakukan.
namun tanpa melakukan sholat witir lagi.
Wallohu a’lam



